Pesona SBY-Megawati redam doa nyinyir Tifatul

REPORTED BY: Fathor Rasi

Pesona SBY-Megawati redam doa nyinyir Tifatul "A politician thinks of the next election. A statesman, of the next generation." James Freeman Clarke

Suasana sejuk dambaan seluruh rakyat di Tanah Air akhirnya hadir di tengah perayaan HUT RI ke-72 ketika Susilo Bambang Yudhoyono tiba-tiba muncul dengan senyuman khasnya di Istana Merdeka, 17 Agustus kemarin. Momentum perayaan HUT kemerdekaan kemarin tampak semakin manis ketika tepuk tangan para tamu undangan bergemuruh saat bersalaman dengan Ketum PDIP, Megawati. Pesona kedua mantan Presiden RI itu berhasil memikat mereka yang hadir di Istana Merdeka. Maklum, selama ini keduanya kerap diberitakan tidak akur dan saling menghidar untuk bertemu selama bertahun-tahun.

Komentar positif pun bermunculan di media sosial sehingga mamacu semangat persatuan dan kesatuan yang ditandai oleh ledakan kata "merdeka" di dinding facebook maupun di twitter. Mungkin selama publik terlalu bosan dengan pemberitaan soal polemik antarparpol, aksi saling lapor antarpolitisi, merendahkan dan saling mempolisikan, sehingga momen perjumpaan SBY-Megawati dirindukan.

Sebelumnya, Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono disorot media karena absen dalam sidang tahunan MPR, DPR/DPD kemarin. Wajar, bila publik berasumsi bahwa SBY tidak akan menghari perayaan HUT RI di Istana Negara karena pada tahun-tahun sebelumnya SBY juga jarang menghadari sidang MPR tersebut. Disampin itu, elit partai Demokrat menjelaskan bahwa Ketumnya itu tengah mempersiapkan acara tur kemerdekaan.

Namun, siapa sangka tiba-tiba SBY nongol di Istana Negara  dengan mendapat sambutan antusias dan dihampiri masyarakat untuk sekedar bersalaman dan mencium tangannya. Pertemuan dua mantan Presiden Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono menjadi sorotan utama pada perayaan dan upacara peringatan hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia ke-72 yang berlangsung di Istana Merdeka, Jakarta. Selama 13 tahun terakhir, keduanya tidak pernah hadir bersama-sama dalam acara hari kemerdekaan di Istana.

Momen terakhir keduanya bersama-sama merayakan HUT RI di Istana terjadi pada 2003 silam. Saat itu, Megawati masih menjabat sebagai presiden, dan SBY menjadi Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan. Bahkan, pada Maret 2004, SBY memutuskan mengundurkan diri dari kabinet gotong royong yang dipimpin Megawati, dengan alasan kewenangannya sebagai Menko Polhukam terlalu dicampuri oleh Megawati. Akan tetapi, alasan ini diduga sengaja dicari karena sesungguhnya SBY ingin bertarung pada Pilpres di tahun yang sama. Oleh karena itu, Megawati setengah hati menerima pengunduran diri SBY. Akhirnya setelah sekian tahun lamanya, keduanya berjumpa pada momen yang pas pada peringatan HUT RI.

Meredam gaduh doa Tifatul

Pertemuan Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri dengan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kemarin menuai pujian. Bahkan, pemberitaan kehangatan keduanya mampu meredam kegaduhan sebelumnya yang timbulkan oleh pembacaan doa mantan Menteri Komunikasi dan Informatika era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Tifatul Sembiring dalam Sidang Tahunan MPR 2017,  Rabu (16/8/17).

Mula-mula doa kebangsaan tersebut berlangsung khidmat dan khusyuk. Presiden Jokowi dan hadirin tampak larut dalam munajat kebangsaan itu dengan menundukkan kepala sambil menengadahkan tangan. Namun, begitu pembacaan doa mantan Menteri Komunikasi dan Informatika era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu menyinggung soal fisik Presiden Jokowi, kekhusyuan Wakil Presiden Jusuf Kalla buyar. JK tertangkap kamera media tengah tersenyum usai kata "gemukkan' diucapkan Tifatul.

"Ya Allah ya Rabb, kami lihat badan beliau semakin terlihat kurus, gemukanlah badan beliau yang semakin kurus," panjatnya.

Muatan do'a Tifatul cenderung horizontal dan bertele-tele dengan menyasar fisik Presiden sehingga semakin memanaskan tensi politik, dan bertentangan dengan semangat yang diusung Ketua MPR RI Zulkifli Hasan sebelumnya yang menyinggung keteladanan founding father sebagai perekat persatuan dan kesatuan, mendorong anak bangsa untuk saling yakin meyakini dan saling percaya mempercayai. Bukan saling menuduh dan saling mencurigai melalui persamaan keyakinan hidup tentang berbangsa satu dan bertanah air satu.

Setidaknya apa yang ditunjukkan SBY dan Megawati termasuk BJ Habibie, Ibu Ani Yudhoyono dan Sinta Nuriyah mencerminkan sebagian sikap kenegarawanan yang memiliki karakter cinta damai, anti kekerasan, toleran dan menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan. Kesediaan mereka meninggalkan hiruk-pikuk politik, walaupun sejenak, demi momentum penting Hari Kemerdekaan mencerminkan kedewasaan. Keakraban mereka dengan saling melempar senyum, berjabat tangan dalam suasana persaudaraan menjadi kado istimewa bagi Rakyat Indonesia.

Cabut moratorium TKI ke Saudi, apa yang harus dilakukan pemerintah?
Uang tol elektronik ancam 20 ribu pekerja
Jangan ambil keputusan saat dalam 4 kondisi ini
Menyikapi isu bangkitnya PKI
Refleksi 1 Muharram
Fetching news ...