Rano tertimpa sial kasus Ahok

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Rano tertimpa sial kasus Ahok

Kekalahan tipis Rano Karno atas Wahidin Halim tidak bisa dilepaskan dari sentimen isu penistaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnma (Ahok). Bersebelahan dengan Jakarta, Banten pasti tersambar hawa panas isu ini.

Warga Banten tidak secara langsung menyerang Rano Karno, tetapi lebih kepada kebencian kepada partai utama pendukung pasangan Rano-Embay, yakni PDIP.

Hasil hasil real count di laman Komisi Pemilihan Umum (KPU) Republik Indonesia. Dua pasangan calon gubernur dan wakil gubernur itu hanya terpaut 0,5 persen. Pasangan nomor urut 1 Wahidin Halim-Andika Hazrumy memperoleh 50,25 persen suara, sedangkan kandidat nomor urut 2 Rano Karno-Embay Mulya tertinggal dengan 49,75 persen. Selisih suara hanya setengah persen.

Sementara itu, Indobarometer merilis hasil hitung cepatnya dengan keunggulan tipis pasangan WH-Andika sebesar 50,67 persen, sedangkan Rano-Embay 49,33 persen. Kemudian, dari Indikator Politik, WH-Andika unggul dengan 50,31 persen dan Rano-Embay 49,69 persen.

Karena keunggulan jauh di bawah 2 persen, di bawah margin of error (2-3%), hasil ini rawan digugat. Kubu Wahidin tentu tak akan terima seumpama nanti hasil resmi dari KPU menyatakan sebaliknya. Begitu juga Rano Karno, dengan kekalahan yang tipis, pihaknya sangat mudah menggugat hasil ini ke Mahkamah Konstitusi dengan berbagai alasan, terutama kecurangan.

Merasa menang dalam semua survei, Wahidin segera meminta Rano legowo dengan kekalahan dan mengingatkannya untuk tidak perlu repot-repot menggugat hasil Pilkada karena hal itu hanya akan melelahkan kedua pihak.

"Saya minta lawan legowo, cape. Kan sepakat menerima kalah dan menang, saya kira itu harus ada tanggung jawab moralnya. Ketika kalah, ya sudah;  ketika menang, kita juga tidak sombong," kata Wahidin di posko pemenangannya usai penghitungan cepat selesai, Rabu lalu.

Wahidin-Andika diusung tujuh partai yakni Demokrat, Golkar, Hanura, PKS, PAN, PKB, dan Gerindra. Sementara itu, Rano-Embay didukung PDIP, NasDem dan PPP.

Menurut penilaian banyak warga Banten, Rano Karno tidak dapat dikatakan pejabat yang gagal mengemban tugas. Oleh karena itu, kekalahannya lebih kepada faktor luar, terutama sentimen negatif kepada PDIP sebagai parti pengusung Ahok di Jakarta.

Warga Banten terutama di kawasan penyanggah Jakarta, Tangerang dan Tangerang Selatan, adalah mereka yang lebih dekat dengan isu-isu di Jakarta ketimbang isu di Banten sendiri. Dua wilayah itu adalah yang paling padat penduduknya.

Faktor kedua adalah masih mengakarnya dinasti politik Ratu Atut Chosyiah di provinsi paling miskin di pulau Jawa ini.

Pada tahun 2008, adik Atut yang bernama Haerul Zaman terpilih menjadi Wakil Wali Kota Serang, kemudian menjadi Wali Kota Serang setelah sang Wali Kota meninggal.

Dengan dua pengalaman menjadi wakil dan kemudian gubernur/bupati di tengah jalan, sangat mungkin Andika akan merasakan siklus serupa. Bukan bermaksud mendoakan Wahidin meninggal atau tersangkut korupsi, tetapi sekadar mencermati pola-pola yang berkembang.

Cabut moratorium TKI ke Saudi, apa yang harus dilakukan pemerintah?
Uang tol elektronik ancam 20 ribu pekerja
Jangan ambil keputusan saat dalam 4 kondisi ini
Menyikapi isu bangkitnya PKI
Refleksi 1 Muharram
Fetching news ...