Ideas Law

Yang luput dari revisi KUHP

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Yang luput dari revisi KUHP

Beberapa waktu belakangan sejumlah aktivis menyoroti Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP). Salah satu soal yang menjadi polemik adalah terkait perluasan definisi zina, yang sebelumnya didefinisikan lelaki dengan perempuan hendak diperluas menjadi laki dengan laki dan perempuan dengan perempuan, yang dalam hal ini diarahkan untuk melingkup LGBT.

Pada pasal 484 ayat 1 huruf e dinyatakan bahwa makna zina adalah “Laki-laki dan perempuan yang masing-masing tidak terikat dalam perkawinan yang sah melakukan persetubuhan”.

Pasal ini, selain beberapa pasal yang lain, memanen pro dan kontra terhadap rencana pengesahan RKUHP tersebut. Saya tidak hendak membahas pihak yang pro dan kontra, akan tetapi ingin menambahkan supaya tidak kepalang tanggung. Pasalnya, yang terjadi di masyarakat tidak hanya hubungan heteroseksual dan homoseksual, tetapi juga bestiality alias hubungan seksual dengan binatang.

Kinsey mencatat bahwa 8 persen pria dan 4 persen wanita pada era 1960 adalah zoophilia. Pada era 1970an, pengidap zoophilia merosot menjadi 4 persen pada pria dan 1 persen pada wanita di wilayah peternakan. Penurunan ini diduga lebih pada hilangnya kesempatan, bukan pada lenyapnya orientasi seksual. Pada 1980, Crepault  dan Couture menemukan data bahwa 5 persen pria yang mereka survei mengaku memiliki fantasi seksual dengan binatang ketika sedang berhubungan dengan pasangan hetero mereka.

Bestiality, saya yakin, jauh lebih banyak daripada yang orang bayangkan, dan bisa pula homo-bestiality. Saya ingin kembali masih kanak-kanak, saat saya tinggal di kampung yang mayoritas penduduknya bertani sekaligus beternak pada akhir 1980 hingga awal 1990. Anak seusia saya ke atas pasti kenal dengan Rodak (65an tahun), sebut saja demikian. Rodak terkenal bukan karena prestasinya tapi perilaku ganjilnya.

Saat bermain ke ladang bersama sejumlah teman sebaya, saya pernah menyaksikan bagaimana Rodak memperkosa seekor kambing betina milik sepupu yang sedang ditambat di ladangnya sendiri. Oleh Rodak, kambing dibawa dan diikat di bawah sebuah pohon mangga, direbahkan dengan leher yang ditindih balok kayu. Rodak dalam posisi duduk menggagahi binatang malang tersebut.

Lain kesempatan, saya dan teman-teman kembali menyaksikan Rodak menggagahi kambing yang kebetulan digembala di ladangnya—ladang Rodak dan keluarga saya bersebelahan. Posisi duduk sepertinya menjadi posisi favorit Rodak, entah karena dia tidak baca kamasutra atau dengkulnya yang sudah linu membuatnya sulit bermanuver.

Belakangan saya baru memahami bahwa saya (juga teman-teman yang lain) adalah korban kekerasan seksual akibat menyaksikan kejadian tersebut (lihat John dan Linda Friel 1988: 75-79). Anak-anak harus mendapatkan kepastian perlindungan dalam hal ini.

Korban Rodak tidak hanya kambing, tetapi juga ayam tetangga. Pernah sekali waktu anak perempuannya dicekik karena dianggap mengganggu kegiatan seksualnya tersebut. Sang anak sebelumnya dengan marah-marah meminta supaya Rodak tobat. Tak sampai meninggal, tetapi sang anak kemudian tak berani lagi mengingatkan ayahnya.

Di kampung saya, tidak hanya Rodak yang melakukan aksi bestiality. Pada periode itu, seorang remaja penggembala juga pernah tertangkap mata sedang memperkosa seekor kambing—saya gunakan istilah ‘memperkosa’ karena tindakan tersebut saya kira tidak diinginkan si kambing. Kalau ternyata suka sama suka, kita sebutlah itu zina karena keduanya tak lebih dulu ijab-qabul di KUA.

Sebelum “Era Rodak”, ada pria yang dikonfirmasi gemar menggauli sapinya sendiri.

Apakah bestiality hanya di kampung saya?

Anak zaman now pasti jawab, “OH, NO!”

Seorang jurnalis senior berkisah. Saat dirinya ditugaskan ke Papua, dia pernah secara iseng menanyakan perkara seksual kepada aparat keamanan yang bertugas di sana.

“Maaf nih, pak. Kan, Anda jauh dari istri. Kalau pengin begituan gimana?” tanyanya kepada salah seorang petugas.

Di luar dugaan, ketimbang keluyuran ke lokasi prostitusi (mungkin terlalu jauh) atau kencan dengan perempuan setempat, petugas ini memilih melampiaskan nafsunya dengan ayam.

“Kempotannya ituloh!” katanya, menirukan si petugas menggambarkan performa rahim ayam.

Nah, kisah di atas belum termasuk cerita penderitaan angsa-angsa betina di Lapas. Belum pula, cerita ibu-ibu yang mendatangi seksolog atau psikolog karena syok setelah unggas betinanya yang hilang yang kemudian ternyata berada di kamar anak laki-lakinya.

Seharusnya, anggota DPR—yang setakat ini ramai disorot karena merevisi UU MD3 untuk menegaskan kehormatannya itu—berkonsultasi ke seksolog/psikolog guna mendapatkan masukan terkait jenis-jenis hubungan seksual, supaya pembahasannya lebih komprehensif, baru kemudian dijadikan diskusi yang serius sebelum disetujui.

Kalau perlu, mereka berkonsultasi ke paranormal karena sebagian mereka mengaku bisa berhubungan dengan jin. Bahkan, di sebuah talkshow ada dari mereka yang mengklaim bahwa kenikmatannya 10 kali lipat daripada berhubungan dengan wanita bangsa manusia. Nah, bagaimana jika ini kemudian dijadikan bisnis seks atau difasilitasi kawin kontrak dengan jin wadon?!

Integritas Jokowi diragukan usai tunduk pada ancaman Ma'ruf amin
Mengintip sekolah fashion muslim pertama di Indonesia
Tanda haji yang diterima Allah
5 bank besar jadi korban sekte penghapus utang
Usai haji, AHY bakal gabung tim pemenangan Prabowo-Sandi
Kubu Jokowi bekali tim kelola media sosial
Bongkar intrik Ma'ruf Amin, Mahfud masih dukung Jokowi?
Lantik Wakapolri Syafruddin, Jokowi amankan suara Polri?
Soal tuntutan rotasi jabatan yang tak transparan, ini jawaban KPK
Orang Indonesia paling nggak bisa <i> nyusu </i>
Ma'ruf Amin perintahkan NU ancam Jokowi hanya tafsiran Mahfud MD
3 kali mogok dalam 12 hari, LRT Palembang 95 persen produk lokal
Legislator minta dalang pembakaran satu keluarga dihukum mati
Kubu Jokowi ingin Ma'ruf temui Rizieq di Mekkah
Ahok bakal terjun kampanye untuk Jokowi?
Fetching news ...