Memaksa kakak untuk mengalah

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Memaksa kakak untuk mengalah "Orang yang gampang mengalah akan sulit bahagia."

Anak lebih tua sering diminta mengalah oleh orang tua ketika berhadapan dengan adiknya. Pedagogi ini kerap diterima sebagai ajaran yang lazim karena menganggap mengalah adalah sebuah kebaikan.

“Kakak! Kakak, kan, sudah gede. Ngalah dong sama adiknya. Ayo, kasih mainannya,” perintah seorang ibu kepada Keisya, anak perempuannya yang berusia 8 tahun.

Keisya (samaran) memiliki adik dua tahun lebih muda, yang juga seorang perempuan. Keduanya kerap terlibat perebutan sesuatu, karena sang adik cenderung menyukai apa yang diinginkan kakaknya. Pada situasi demikian, sang ibu hampir selalu meminta Kanya untuk mengalah, dengan alasan dia sudah besar.

Ibu dari Keisya adalah wanita dengan pendidikan tinggi dan level ekonomi di atas rata-rata orang Indonesia. Informasi latar belakang keluarga Keisya penting diketengahkan untuk mencermati fakta bahwa pola pengasuhan seperti ini terjadi di level masyarakat mana pun dalam budaya kita.

Mengalah, meskipun sekilas tampak baik, adalah bentuk pengabaian terhadap hak dan perasaan. Bagaimanapun, mengalah adalah kalah. Kita ambil contoh, seorang atlet tengah berlaga di babak penyisihan menghadapi bekas seniornya di tempat latihan. Karena segan, dia kemudian mengalah. Yang terjadi adalah dia kehilangan kesempatan untuk memenangkan perlombaan.

Akan tetapi, orang sering menukas bahwa mengalah sesungguhnya tidak kalah. Pernyataan ini tentu mengandung paradoks, yang tidak akan dapat diterima oleh nalar kritis. Mengalah atau dikalahkan hanyalah soal cara, tetapi kesimpulannya sama, yakni kalah; dalam artian, ada pihak yang dimenangkan atau menang lalu yang kalah adalah orang yang mengalah tadi. Artinya, mengajarkan anak untuk mengalah sejatinya mengkondisikan anak-anak untuk kalah.

Dengan demikian, supaya tidak kalah, pilihannya hanya ada dua: menang atau berbagi (kerjasama). 

Sebagai orang tua, cara terbaik menyikapi situasi perebutan sesuatu antar saudara kandung adalah dengan bersikap adil. Misalnya, jika orang tua sudah membelikan kedua anak masing-masing satu mainan. Lalu, mainan sang adik rusak kemudian dia meminta mainan kakaknya, orang tua terlarang menyuruh sang kakak untuk memberikan mainannya kepada adiknya, kecuali dia memang ikhlas memberikannya. Memberi dan mengalah adalah dua hal berbeda; menyuruh mengalah pun berbeda dari meminta berempati.

Meskipun lebih tua (sebagai kakak), jika umurnya masih kanak-kanak, dia tetaplah anak-anak yang biasanya sangat posesif terhadap hak miliknya. Perasaan bawaan ini harus dilindungi oleh orang tua, bukan merampasnya.

Dalam posisi memperebutkan sesuatu, sikap orang tua yang paling maknawi adalah mengajarkan kakak-adik supaya memahami dan menghargai properti masing-masing dan/atau bekerjasama; meminta sang kakak mengalah adalah zalim. Jika ternyata sang kakak menolak untuk memberikan mainannya, itu adalah hak dia yang harus dilindungi. Sementara itu, menenangkan sang adik adalah tugas orang tua. Jangan pernah mengalihkan tugas ini dengan cara mengorbankan perasaan sang kakak.

Dampak selalu mengalah

Memposisikan kakak untuk selalu mengalah tidak hanya berdampak menyakitkan saat proses tersebut terjadi, tetapi dapat mempengaruhinya sepanjang hayat dalam bentuk kepribadian yang khas. 

Orang yang terbiasa mengalah akan kabur dalam memandang antara haknya dan hak orang lain. Dia akan mengalami ketakutan untuk memperjuangkan haknya sendiri. Orang seperti ini ketika dewasa mudah ditelikung, baik di sekolah, tempat kerja atau di mana pun. Jika kreatif, karya dan ide-idenya gampang dicontek atau diklaim oleh orang lain, sehingga dia kehilangan reputasi yang seharusnya berfungsi untuk menaikkan karirnya. Orang yang gampang mengalah tidak akan mendapat bagian maksimal dari potensinya.

Orang yang dikondisikan mengalah ketika kecil juga akan mudah dimanfaatkan dan dikambinghitamkan oleh orang lain ketika dewasa.

Kondisi paling parah terjadi dalam dua hal: dia menyimpan dendam karena merasa haknya selalu dirampas atau dia merasa tidak berharga karena perasaannya tidak pernah diakomodasi oleh lingkungan. Baik dendam maupun perasaan tidak berharga adalah racun yang akan merusak kejiwaan seseorang. Yang pasti, orang yang gampang mengalah akan sulit bahagia.

Cabut moratorium TKI ke Saudi, apa yang harus dilakukan pemerintah?
Uang tol elektronik ancam 20 ribu pekerja
Jangan ambil keputusan saat dalam 4 kondisi ini
Menyikapi isu bangkitnya PKI
Refleksi 1 Muharram
Fetching news ...