Memperkenalkan manusia purba Sangiran

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Memperkenalkan manusia purba Sangiran

Di bulan Oktober-November 2017 ini, Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran (BPSMP Sangiran) akan melakukan pameran keliling lima kota di Sumatra. Masing-masing kota akan dikunjungi selama lima hari dengan menyajikan berbagai koleksi yang siap memberikan informasi bagi masyarakat.

Pameran keliling lima kota di Sumatra ini dimulai dari Medan Focal Point Mall pada tanggal 18 hingga 22 Oktober 2017. Selanjutnya Sadira Plaza, Pekanbaru, akan dihampiri koleksi dari Sangiran pada tanggal 1-5 November 2017. Kemudian dilanjutkan di Lippo Plaza, Jambi, tanggal 8-12 November 2017. Perjalanan pameran keliling BPSMP Sangiran dilanjutkan di OPI Mall Palembang tanggal 15-19 November 2017. Pameran keliling lima kota di Sumatra ini diakhiri di Bumi Kedaton, Lampung, pada tanggal 22-26 November 2017.

Para pengunjung dapat menikmati koleksi yang dipamerkan dan memperoleh pengetahuan, serta kesempatan mendapatkan hadiah. Koleksi berupa cetakan fosil maupun fosil asli, replika tiga tipe Homo Erectus dan budaya yang mereka hasilkan, serta penjelasan dari pemandu akan meramaikan pameran ini.

Pameran lima kota di Sumatra, BPSMP Sangiran menyiapkan berbagai koleksi yang siap memberikan pengetahuan dan informasi bagi masyarakat. Kekayaan Situs Manusia Purba Sangiran akan disajikan guna memberi pengetahuan dan informasi bagi masyarakat berupa kisah Sangiran di masa lalu.

Sangiran di masa lalu saat masih menjadi laut dalam, kehidupan rawa, kisah hutan tropis dan juga perubahan iklim yang melanda Sangiran tersaji di koleksi yang telah disiapkan guna memberikan pengetahuan dan informasi bagi masyarakat Sumatera. Bukti-bukti kisah itu tersaji dalam koleksi yang ditampilkan bagi masyatakat.Koleksi yang disajikan akan menjadi suatu kisah yang dibawa langsung dari Bumi Sangiran berkeliling Sumatera.

Situs Sangiran

Situs Sangiran terletak di dua wilayah kabupaten yang ada di Provinsi Jawa Tengah, yaitu Kabupaten Sragen dan Kabupaten Karanganyar, dengan luas 59,21 kilometer persegi. Situs ini dikelola Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran, salah satu unit pelaksana teknis (UPT) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Museum Sangiran yang terletak di kawasan Situs Sangiran dibagi menjadi lima klaster. Klaster pertama adalah Klaster Krikilan yang berfungsi sebagai pusat kunjungan atau visitor center, yang memberikan informasi secara lengkap tentang Situs Sangiran. Kemudian ada Klaster Dayu, Klaster Bukuran, Klaster Ngebung, dan Museum Manyarejo. Situs ini buka pada hari Selasa hingga hari Minggu, pukul 08.00 s.d 16.00 WIB. Pengunjung hanya dikenakan harga tiket sebesar Rp5.000,- per orang untuk dapat menikmati wisata edukasi di situs manusia purba ini. Seperti museum lainnya, Situs Sangiran tutup pada hari Senin untuk proses pembersihan dan perawatan koleksi.   

Saat ini Situs Sangiran tidak hanya dikenal di Indonesia, melainkan juga di dunia internasional sebagai situs yang mampu menyumbangkan pengetahuan penting mengenai bukti-bukti evolusi (perubahan fisik) manusia, evolusi fauna, kebudayaan, dan lingkungan, yang terjadi sejak dua juta tahun yang lalu. Karena nilai-nilainya, Situs Sangiran telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO. UNESCO menetapkan Situs Sangiran sebagai Warisan Budaya Dunia Nomor 593 pada tahun 1996 dengan nama The Sangiran Early Man Site.

Nama Situs Sangiran mulai dikenal sejak seorang peneliti Belanda bernama Von Koenigswald melakukan penelitian pada tahun 1934. Pada waktu itu Von Koenigswald menemukan alat-alat batu hasil budaya manusia purba dalam penelitiannya di Situs Sangiran. Selanjutnya pada tahun 1936 ditemukanlah fosil manusia purba pertama di Situs Sangiran. Setelah itu, tahun demi tahun penelitian semakin banyak dilakukan di Sangiran yang menghasilkan berbagai temuan, baik berupa fosil manusia, fosil hewan, alat tulang, dan alat batu.  

Mendengar nama Situs Sangiran, mungkin yang terbayang dalam pikiran kita adalah “fosil dan fosil”. Namun, kekayaan arkeologis yang ada di Situs Sangiran tidak hanya fosil, tetapi juga alat-alat batu hasil budaya manusia purba serta lapisan tanah purba yang dapat menunjukkan perubahan lingkungan alam sejak dua juta tahun lalu sampai sekarang tanpa terputus.

Situs Sangiran beserta semua kandungan arkeologis yang ada di dalamnya merupakan cagar budaya yang penting untuk dijaga dan dilestarikan. Pelestarian Situs Sangiran penting dilakukan agar semua nilai penting yang terkandung di dalamnya dapat terus dipelajari, dimanfaatkan, dan diwariskan kepada generasi yang akan datang. Saat ini pengelolaan Situs Sangiran dilakukan oleh salah satu UPT Kemendikbud, yaitu Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran, bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Pemerintah Kabupaten Sragen, dan Pemerintah Kabupaten Karanganyar.

Upaya pelestarian Situs Sangiran terus dilakukan dengan berbagai cara, yaitu dengan kegiatan sarasehan, sosialisasi, dan pemberian imbalan bagi anggota masyarakat yang menemukan fosil dan  menyerahkan fosil temuannya kepada BPSMP Sangiran. Upaya tersebut terus intensif dilakukan untuk menyadarkan masyarakat akan pentingnya fosil bagi ilmu pengetahuan. Selain itu ada juga kegiatan penelitian yang masih terus dilakukan, pameran keliling di beberapa kota setiap tahun, bioskop keliling, pembuatan buku/jurnal, konservasi fosil, dan lain-lain. Kegiatan-kegiatan tersebut sudah dianggarkan setiap tahunnya, sehingga saat ini dapat menekan penjualan gelap dan aktivitas pencarian fosil yang dilakukan masyarakat. 

Jokowi yang sambungkan Sabang-Merauke
Hasil rapat pleno Golkar tak pengaruhi peluang MKD copot Novanto
Menghadapi ketatnya persaingan global olahraga
Aroma politik yang menyengat pada Reuni Akbar 212
Pemerintah harus lacak Rp19 triliun dana WNI dari Inggris ke Singapura
Fetching news ...