Mengenal LEISA, konsep pertanian masa depan

REPORTED BY: Siti Dzakiyyah

Mengenal LEISA, konsep pertanian masa depan

Usaha budiaya pertanian tidak terlepas dari penggunaan pupuk dan pestisida untuk menjaga pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Namun, hal ini justru menjadikan masalah baru yang memberikan dampak negatif pada lingkungan. Isu kerusakan lingkungan yang disebabkan karena penggunaan pupuk dan pestisida kimia berlebih memberikan pengaruh pada perubahan keseimbangan lingkungan serta menyebabkan terjadinya penurunan produksi pertanian secara massal. Seiring dengan gencarnya swasembada pangan dan revolusi hijau sebagai program utama pemerintah, usaha peningkatan produksi pertanian guna memenuhi kebutuhan masyarakat dewasa ini pun lebih giat dilakukan.

Sektor pertanian bersifat dinamis, berubah seiring dengan berjalannya waktu. Populasi manusia yang semakin meningkat menjadi faktor utama meningkatnya kebutuhan akan pangan, sandang dan papan. Berbagai usaha pertanian terus dikembangkan seiring kebutuhan pangan yang semakin tinggi. Penerapan teknologi di bidang pertanian diberikan dengan harapan dapat meningkatkan produktivitas tanaman dan memenuhi kebutuhan masyarakat. Budidaya pertanian dilakukan dengan sangat intensif, untuk mengejar produksi yang tinggi. Namun, hal tersebut tidak diikuti dengan perencanaan yang matang sehingga tidak mengedepankan konsep keberlanjutan dan kelestarian lingkungan.

Penggunaan pupuk kimia dan pestisida berlebih untuk meningkatkan produksi tanaman menyebabkan terjadinya penurunan kualitas tanah dan lingkungan. Usaha budidaya tanaman yang begitu intensif mengambil hara dalam bentuk hasil panenan tidak diimbangi dengan pengembalian yang sesuai, sehingga menyebabkan degradasi lahan dan kerusakan lingkungan yang efeknya berkepanjangan terutama daerah sedimentasi maupun muara sungai.

Berbagai permasalahan tersebut menjadi acuan bagi munculnya suatu pemikiran baru, dimana proses bertani harus sesuai dengan prinsip dasar yaitu menyediakan kebutuhan pangan bagi masyarakat serta menjaga kualitas lingkungan. Oleh karena itu, munculah konsep LEISA (Low External Input Sustainable Agriculture) yaitu suatu konsep di mana penggunaan input luar (pemberian pupuk kimia dan pestisida) dikurangi, dengan memanfaatkan potensi yang tersedia di alam. LEISA menjadi suatu konsep baru setelah konsep HEIA (High External Input Agriculture) atau dewasa ini disebut dengan konsep pertanian konvensional dimana keberhasilan kegiatan tani ditentukan oleh pengaruh besar dari input luar (pupuk kimia dan pestisida) tanpa memperhatikan aspek lingkungan dan ketersediaan sumber daya alam.

Konsep LEISA sangat cocok diaplikasikan di sistem pertanian Indonesia karena Indonesia dianugerahi oleh sumber daya alam yang melimpah. LEISA merupakan konsep pertanian masa depan.  Konsep LEISA merupakan penggabungan dua prinsip yaitu kelestarian lingkungan serta pengetahuan dan praktek pertanian masyarakat setempat/tradisional. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan produks secara berkelanjutan dan mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan bagi lingkungan maupun sosial dengan meminimalkan input eksternal.

Menurut Reijntjes et al. (1999) dan Plucknert dan Winkelmann (1995), LEISA tidak bertujuan untuk mencapai produksi maksimal dalam jangka pendek, melainkan untuk mencapai tingkat produksi yang stabil dan memadai dalam jangka panjang.

Sistem LEISA mengacu pada ciri-ciri:

1. Mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya lokal dengan mengkombinasikan berbagai komponen sistem usaha tani (tanaman, hewan, tanah, air, iklim dan manusia) sehingga saling melengkapi dan memberikan efek sinergi yang besar.

2. Mencari cara pemanfaatan input luar hanya bila diperlukan untuk melengkapi unsur-unsur yang kurang dalam ekosistem dan meningkatkan sumber daya biologi, fisik dan manusia. Dalam memanfaatkan input luar ditekankan pada maksimalisasi daur ulang dan minimalisasi kerusakan lingkungan.

Adapun Prinsip-prinsip dasar ekologi pada LEISA berdasarkan Reijntjes et al. (1999) dikelompokkan sebagai berikut:

1. Menjamin kondisi tanah yang mendukung pertumbuhan tanaman, khususnya dengan mengelola bahan organik dan meningkatkan kehidupan dalam tanah.

2. Mengoptimalkan ketersediaan dan menyeimbangkan arus unsur hara, khususnya melalui pengikatan nitrogen, pemompaan unsur hara, dan pemanfaatan pupuk luar sebagai pelengkap.

3. Meminimalkan kerugian sebagai akibat radiasi matahari, udara dan air dengan pengelolaan iklim mikro, pengeloaan air dan pengendalian erosi.

4. Meminimalkan serangan hama dan penyakit terhadap tanaman dan hewan melalui pencegahan dan perlakuan yang aman.

5. Saling melengkapi dan sinergis dalam penggunaan sumber daya genetik yang mencakup penggabungan dalam sistem pertanian terpadu dengan tingkat keanekaragaman fungsional yang tinggi.

Rizal Ramli: Jokowi impor pangan ugal-ugalan
Pidato Prabowo disebut klise, BPN samakan Prabowo dengan Bung Karno
Amerika Serikat rugi Rp38 triliun
Sempat ditolak, Prabowo akhirnya shalat jumat
Kedengkian terhadap mantan picu impotensi
TKN: Jokowi sudah persiapkan jurus hadapi debat kedua
PSI minta kubu Prabowo klarifikasi soal tudingan Jokowi pakai konsultan asing
Kubu Jokowi nilai Prabowo cari panggung
TKN nilai tak masalah menteri bantu Jokowi susun materi debat
Simulasi Prabowo menang di 12 daerah dinilai hanya kipasan angin surga
Aktivis lingkungan nilai Jokowi komitmen kelola SDA untuk rakyat
Gubernur Enembe tak bersalah, warga Papua desak KPK minta maaf
PSI nilai manuver politik oposisi soal tudingan konsultan asing terlalu bodoh
Kubu Jokowi: Kemenangan di Jawa Barat jadi barometer suara nasional
 Tuduh pakai konsultan asing, PSI tuding oposisi yang sengaja hancurkan citra Jokowi
Fetching news ...