Pesan Menag untuk mahasiswa Al Azhar Mesir

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Pesan Menag untuk mahasiswa Al Azhar Mesir "Dunia memerlukan pikiran-pikiran moderasi Islam di tengah kuatnya globalisasi dan teknologi informasi yang dapat mendistorsi pesan utama ajaran Islam." - Lukman Hakim Saifuddin

Di sela kehadirannya untuk mengikuti Konferensi Internasional di Al Azhar Kairo, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin melakukan pertemuan dengan mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Mesir.

Pertemuan ini berlangsung di Asrama Mahasiswa Indonesia, Komplek Universitas Al Azhar Nasr City Cairo, Selasa (16/01/2017). Kepada para mahasiswa, Lukman berpesan supaya mereka mengembangkan gagasan keagamaan yang moderat.

“Dunia memerlukan pikiran-pikiran moderasi Islam di tengah kuatnya globalisasi dan teknologi informasi yang dapat mendistorsi pesan utama ajaran Islam. Karenanya, saya mengajak saudara-saudara untuk menebarkan kedamaian,” terang Menag. 

Menurut Menag, mendapatkan kesempatan studi di Al Azhar ibarat mendapat kemuliaan dan kehormatan. Menag sendiri mengaku dulunya ingin melanjutkan pendidikan ke Al Azhar, namun takdir berkata lain.

“Saudara adalah  orang-orang pilihan (selected person). Ada ratusan, ribuan dan bahkan jutaan orang di luar sana yang ingin belajar ke Al Azhar University, namun kenyataan berkata lain,” ujarnya.

Menag mengajak mahasiswa untuk mensyukuri kesempatan belajar ini. Menurutnya, ada dua hal yang bisa dilakukan, yaitu: menjaga nama baik bangsa dan menjaga nama baik almamater. “Sepulang ke Indonesia, ikut mempromosikan Islam washatiyyah, menjadi duta atau ambassador Islam rahmatan lil almin,” terangnya.

Hal senada disampaikan Gubernur NTB yang juga Ketua Organisasi Alumni Al Azhar Indonesia, TGB. Zainul Majdi. Dia berharap mahasiswa Indonesia di Mesir dapat menjaga moderasi Islam (Islam washtiyyah) sebagai DNA yang melekat pada diri mahasiswat Al Azhar University. 

Dukungan untuk palestina

Dalam konferensi tersebut Lukman akan menjadi pembicara kunci. Konferensi ini sendiri bertema “Konferensi International Al Azhar terhadap Penyelamatan Baitul Maqdis".

Konferensi ini akan berlangsung dua hari, 17-18 Januari 2018. Menag menegaskan kalau dirinya, atas nama Indonesia, akan menegaskan kembali dukungan Indonesia kepada Palestina.

"Bangsa Indonesia dengan umat Islam terbesar memiliki sikap jelas dan tegas yakni mendukung setiap upaya-upaya kemerdekaan Palestina. Indonesia juga menolak klaim sepihak Amerika terkait Yerussalem," terang Menag. 

Menurut Menag, dukungan terkait masalah al-Quds al-Syarif ini harus terus disuarakan. Masalah al Quds dan Masjidil Aqsa bukan semata masalah bangsa Palestina, tetapi masalah global, karena berkaitan dengan agama, sejarah, warisan peradaban Islam. 

"Masjidil Aqsa adalah kiblat pertama umat Islam, dan kota suci ketiga setelah Makkah dan Madinah. Di tempat inilah Nabi Muhammad SAW diperjalankan dalam peristiwa Isra’ dan Mikraj," tuturnya. 

"Bukan hanya dukungan politik, Indonesia juga siap berpartisipasi dalam mewujudkan perdamaian di Palestina serta memperkuat institusi keagamaan melalui kerjasama International," sambungnya.

Konferensi International ini juga secara khusus akan membahas dan menyoroti Sejarah dan Kebudayaan Baitul Maqdis, dulu dan sekarang. Salah satu topik bahasannya terkait pengaruh perubahan status Baitul Maqdis terhadap penyebaran permusuhan. 

Selama di Mesir, Selain itu bertemu dengan para Mahasiswa Indonesia, Menag juga akan bertemu dengan Rektor Universitas al Azhar, Grand Syaikh Al Azhar, serta pimpinan lembaga Fatwa Mesir  (dar el fatwa al Mishriyyah). Menag juga dijadwalkan meninjau pusat manuskrip keagamaan Al Azhar. 

Menag akan tiba kembali di Tanah Air pada 19 Januari 2018. Ikut mendampingi Menag, Dirjen Pendidikan Islam Kamaruddin Amin, Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Al Quran Muchlis M Hanafi, Kasubdit Kelembagaan Diktis Agus Sholeh, dan  Kasi Pengembangan Profesi pada PTKIN-DIKTIS M. Adib Abdushomad.

Jangan berharap jenis kelamin anak
Kemenag berburu akomodasi jemaah haji sesuai standar
Imbas tingginya elektabilitas Jokowi ke PDIP
Tingginya kasus kekerasan seksual di Aceh
Permintaan Jokowi supaya rektor lakukan terobosan besar
Fetching news ...