Peternakan negara tropis bangkitkan kedaulatan pangan

REPORTED BY: Fathor Rasi

Peternakan negara tropis bangkitkan kedaulatan pangan

Peternakan di negara-negara tropis secara signifikan mampu meningkatkan kedaulatan pangan. Peran peternakan di negara-negara tropis menjadi penting untuk membangkitkan kemandirian karena fungsi peternakan sebagai tabungan, akumulasi modal, serta untuk menyuplai input bagi tanaman pangan melalui produksi kotoran yang dapat diolah menjadi pupuk.

"Upaya mengukur kontribusi peternakan pada kedaulatan pangan di negara-negara tropis sangat penting untuk mengidentifikasi keunggulan dan daya saing komoditas dan produk turunannya," jelas Dekan Fakultas Peternakan (Fapet) Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. Ir. Ali Agus, usai acara the 7th International Seminar on Tropical Animal Production (ISTAP), Selasa (12/09/2017), di Fakultas Peternakan UGM, Yogyakarta.

Prof Ali menjelaskan, para petani di negara tropis tidak memiliki kekuatan untuk mengontrol mekanisme produksi pangan dan kebijakannya. Hal ini disebabkan petani di daerah tropis seringkali dicirikan dengan skala usaha yang kecil dan subsisten.

Hewan ternak, lanjut Prof Ali, telah melekat pada kehidupan petani kecil di negara-negara tropis. Oleh karena itu, melibatkan rumah tangga petani kecil dalam mekanisme produksi dan kebijakan berarti ikut mengamankan kedaulatan pangan sebuah negara.

ISTAP yang mengambil tema “Contribution of Livestock Production on Food Sovereignty in Tropical Countries” merupakan seminar yang berkontribusi penting dalam perkembangan kedaulatan pangan nasional.

“Seminar ini memperkenalkan ilmu dan peralatan baru yang diperlukan dalam mempertahankan lingkungan yang aman dan menemukan upaya yang lebih efektif untuk menjawab tantangan di masa mendatang,” pungkas Prof. Ali.

Kedaulatan Pangan
Sementara itu, Rektor Universitas Gadjah Mada, Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng mengungkapkan, dalam pengertian yang lebih komprehensif, kedaulatan pangan tidak hanya diartikan sebagai ketersediaan pangan, tetapi juga akses terhadap pangan yang berbasis potensi lokal.

“Indonesia dan negara-negara tropis lain kaya akan sumberdaya ternak lokal dan keanekaragaman ternak. Ini adalah aset potensial yang berguna dalam pasar domestik maupun internasional di masa mendatang,” kata Prof. Panut ketika membuka acara ISTAP.

Namun, lanjut Rektor, di negara-negara tropis produksi ternak masih dijalankan oleh peternak kecil. “Permasalahan-permasalahan seperti tidak seimbangnya supply dan demand produk ternak tropis di pasar, kapasitas dan kapabilitas peternak yang masih rendah, dan kurangnya inovasi dan teknologi menjadi tantangan bagi tercapainya kedaulatan pangan,” kata Rektor.

Untuk memecahkan permasalahan tersebut, diperlukan sinergi di antara pada stakholders, yaitu pemerintah, peternak, masyarakat, peneliti, dan akademisi.

“Seminar ini merupakan sinergi antara pemerintah, peneliti, dan akademisi yang diwujudkan melalui presentasi dan diskusi ilmiah. Permasalahan mengenai kedaulatan pangan akan dibahas di sini untuk menemukan solusi serta rekomendasi dalam produksi ternak tropis,” jelas Rektor.   

Sementara itu, ketua panitia ISTAP, R. Ahmad Romadhoni Surya Putra, S.Pt., M.Sc., Ph.D. mengungkapkan, seminar ini ini merupakan kegiatan seminar internasional tentang Tropical Animal Production yang tertua di Indonesia. 

“Seminar ini sudah dimulai sejak awal tahun 90-an dengan melibatkan seluruh peserta dari berbagai penjuru dunia. Pada penyelenggaraan tahun 2017 kali ini, ISTAP dihadiri lebih dari 250 peserta yang berasal dari 11 negara yang terletak di wilayah tropis,” ujarnya.

Jokowi yang sambungkan Sabang-Merauke
Hasil rapat pleno Golkar tak pengaruhi peluang MKD copot Novanto
Menghadapi ketatnya persaingan global olahraga
Aroma politik yang menyengat pada Reuni Akbar 212
Pemerintah harus lacak Rp19 triliun dana WNI dari Inggris ke Singapura
Fetching news ...