Haji: mengapa, kapan dan bagaimana prosesinya?

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Haji: mengapa, kapan dan bagaimana prosesinya? "Sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah. ..." - (QS Albaqarah 2: 196)

Haji  adalah salah satu ritual keagamaan terbesar di dunia. Pada tahun 2017, Kerajaan Arab Saudi mengumumkan pelaksanaan haji dimulai pada Rabu  30 Agustus. 

Ibadah Haji selalu dimulai pada 8 Zulhijjah pada kalender bulan. Sebelumnya, Mahkamah Agung Kerajaan menetapkan hari pertama bulan Zulhijjah pada 23 Agustus. Hasil pengamatan hilal di Mekah biasanya juga menjadi acuan bagi Muslim di Amerika dan Eropa, terutama untuk menetapkan Hari Raya Idul Adha pada 10 Zulhijjah.

Haji adalah ziarah tahunan ke Mekkah, kota suci umat Islam, yang berhukum wajib bagi umat Islam yang mampu. Kewajiban Haji hanya sekali saja seumur hidup bagi semua Muslim dewasa yang secara fisik dan finansial mampu melakukan perjalanan, serta dapat membiayai keluarga yang ditinggalkan.

Selain sebagai salah satu Rukun Islam, Haji dinilai sebagai demonstrasi solidaritas orang-orang Muslim, ketundukan mereka kepada Allah dan pengingat Hari Kebangkitan. Di samping itu, pakaian jemaah Haji yang serba putih meningingatkan kain kafan yang bakal dikenakan setiap Muslim saat meninggal dunia. Kata haji sendiri berarti ‘berniat melakukan perjalanan’.

Ibadah Haji memiliki berbagai kegiatan serta tata cara pelaksanaan yang harus dijalankan oleh setiap jemaah, yang urutannya adalah: niat ihram, thawaf, sa'i, wukuf, tahalul, tertib. 

Bagaimana prosesinya?

Hari pertama, 8 Zulhijjah, jemaah mulai ibadah dengan mengenakan kain ihram (warna putih tanpa jahitan bagi pria) untuk menunjukan bahwa mereka berniat menjalankan ibadah Haji. Setelah shalat pagi di 8 Zulhijah, jamaah pergi ke Mina untuk melaksanakan shalat zuhur, Ashar, maghrib dan isya’.

Di Hari kedua, Jamaah haji akan melaksanakan wukuf di padang Arafah, yang sekaligus menjadi perkemahan terbesar sejagat, tempat konsentrasi sekitar 3 juta umat manusia. Ibadah wukuf ini menjadi pembeda antara haji dan umroh.

Sebelum siang, pada 9 Zulhijjah, jemaah sampai di Arafah, sebuah wilayah datar dan berbatu berlokasi 20 kilometer di timur Mekkah. Yang dilakukan di Arafah adalah memperbanyak shalat, doa, berzikir dan mendengarkan nasehat-nasehat dari para penceramah. Kegiatan-kegiatan tersebut dilaksanakan sejak siang hingga matahari terbenam.

Wukuf berarti ‘diam’ atau ‘tak bergerak’. Jemaah yang meninggalkan wukuf berarti gagal dalam ritual ini.

Jemaah haji harus meninggalkan Arafah menuju Muzdalifah setelah sore tanpa shalat maghrib di Arafah. Muzdalifah adalah wilayah antara Arafat dan Mina. Ketika mereka sampai di sana, jemaah melaksanakan shalat Maghrib dan Isya dengan disatukan (jamak). Di Muzdalifah, mereka menghabiskan malam untuk berdoa dan istirahat.

Kembali ke Mina, pada 10 Zulhijjah, jemaah Haji melakukan upacara simbolik melempari Iblis dengan batu (ramy al-jamarat) dengan melontarkan tujuh buah batu hanya ke salah satu dari tiga pilar, di kenal sebagai Jamrat al-Aqabah.

Setelah melempar jumrah, jemaah merayakan Idul Adha dengan menyembelih hewan kurban sebagai cara untuk meeperingati kisah Ibrahim dan Isma'il. Secara tradisional jemaah mengorbankan hewan mereka sendiri-sendiri, tetapi kini eamaah Haji cukup membeli voucher kurban di Mekkah sebelum musim Haji berlangsung. Penyembelihan hewan biasanya dilakukan tanpa  dihadiri oleh jamaah Haji pemiliknya. Proses yang modern mempercepat pengemasan daging, yang kemudian dibagikan kepada orang miskin di seluruh dunia.

Setelah mengorbankan seekor hewan, ritual Haji terpenting lainnya adalah memotong rambut atau tahallul. Di hari yang sama atau keesokan harinya, jamaah kembali mengunjungi Masjidil Haram di Mekkah untuk tawaf lainnya, dikenal sebagai Tawaf al-Ifadah. Setelah tawaf, jemaah melakukan ritual sa'i, yaitu berjalan cepat atau setengah berlari antara bukit Safa dan Marwah. Malam tanggal 10 dihabiskan kembali di Mina.

Dimulai di siang hingga matahari terbenam di 11 Zulhijah (dan tanggal setelahnya), jamaah Haji kembali melempar jumrah, kali ini dilemparkan ke dua dari tiga pilar di Mina. Ibadah ini termasuk kedalam lempar jumrah.

Di 12 Zulhijjah, jemaah melakukan ritual yang sama seperti yang dilakukan di 11 Zulhijah. Jemaah kemudian meninggalkan Mina ke ke Mekkah sebelum matahari terbenam di tanggal 12 Zulhijah. Jika tidak mampu meninggalkan Mina di tanggal 12, mereka diharuskan kembali melempar jumrah sebelum kembali ke Mekkah.

Akhirnya, sebelum meninggalkan Mekkah, jamaah melaksanakn tawaf perpisahan yang disebut Tawaf al-Wadaa pada tanggal 13 Zulhijjah. Wadaa' berarti 'undangan perpisahan'. Jemaah mengelilingi Kakbah tujuh kali melawan arah jarum jama, dan jika memungkinkan, dianjurkan untuk mencium dan menyentuh batu hitam yang ditempel di dinding Kakbah.

Rangkaian ritual ibadah Haji akan berakhir pada 13 Zulhijjah. Sehingga, keseluruhan ibadah haji memakan waktu lima hari.

Bagi umat Islam, rangkaian tata cara ibadah Haji mengikuti ritual yang dilakukan Nabi Muhammad saat Haji Perpisahan atau Haji Wada’ pada tahun 632. Haji dimaksudkan sebagai penyucian dan mendekatkan diri kepada Allah. Usai berjhaji, jemaah diharapkan mengalami perubahan sikap yang lebih baik. Bagi yang berhasil melakukannya, mereka mendapat gelar “Haji Mabrur”.

Cabut moratorium TKI ke Saudi, apa yang harus dilakukan pemerintah?
Uang tol elektronik ancam 20 ribu pekerja
Jangan ambil keputusan saat dalam 4 kondisi ini
Menyikapi isu bangkitnya PKI
Refleksi 1 Muharram
Fetching news ...