Melindungi karya seni dari jepretan dan sentuhan

REPORTED BY: Fathor Rasi

Melindungi karya seni dari jepretan dan sentuhan Pengunjung memotret karya lukisan

Galeri Nasional Indonesia di Jalan Medan Merdeka Timur No. 14, Gambir, Jakarta Pusat, menjadi salah satu destinasi Tur Edukasi Raimuna Nasional XI. Ratusan anak pramuka dari berbagai daerah beberapa waktu lalu turut serta dalam tur tersebut.

Di pintu masuk Galeri Nasional tersebut, terpampang beberapa peraturan tertulis yang harus dipatuhi para pengunjung. Di antaranya larangan untuk menyentuh benda atau karya di Galeri Nasional. Peraturan tersebut mengundang tanya salah seorang peserta pramuka, “Pak, mengapa kita tidak boleh menyentuh karya di sini?” tanya anak tersebut.

Tanpa ragu, Zamrud Setia Negara, Ketua Pameran dan Kemitraan Galeri Nasional Indonesia dengan sigap langsung menjawab pertanyaan anak tersebut. Dia menjelaskan, alasan dilarangnya pengunjung menyentuh karya dan lukisan karena akan menyebabkan kerusakan atau karat/korosi.

“Perlu diketahui, telapak tangan kita ini mengandung lemak dan keringat. Seperti halnya ketika telapak tangan menyentuh layar ponsel, kemudian terdapat bekas di layar itu. Begitu pula jika kita menyentuh lukisan dan kanvas, pasti dalam hitungan hari, bulan, dan tahun akan timbul korosi yang bersifat merusak,” jelasnya.

Artinya, lanjut Zamrud, saat kita menyentuh sembarangan sebuah karya, kita telah merenggut kesempatan generasi berikutnya untuk melihat karya tersebut. Sebuah karya yang sudah rusak akan sangat sulit dipulihkan kembali.

Peraturan lain yang seringkali ditanyakan oleh pengunjung adalah larangan memotret menggunakan lampu sorot (flash/blitz). Selain dapat mengganggu pengunjung, lampu sorot juga dapat mempercepat penguningan pigmen warna pada suatu karya seni lukis. Hal tersebut tentunya dapat
mengurangi keindahan lukisan dari segi warna.

Peraturan lainnya adalah larangan untuk memotret menggunakan kamera DSLR. Menurut Zamrud, daya tangkap kamera  DSLR yang notabene beresolusi tinggi dapat menghasilkan gambar yang sangat akurat, sehingga mudah untuk ditiru, dicetak ulang, atau disalahgunakan.

“Kami menghindari adanya penyalahgunaan atas hasil foto yang saat ini sudah sangat akurat dan detail. Karena seluruh karya di sini adalah karya koleksi Negara yang harus kita jaga bersama. Agar kelak anak cucu kita dapat turut melihat karya luar biasa ini di masa depan,”
pungkasnya.

Cabut moratorium TKI ke Saudi, apa yang harus dilakukan pemerintah?
Uang tol elektronik ancam 20 ribu pekerja
Jangan ambil keputusan saat dalam 4 kondisi ini
Menyikapi isu bangkitnya PKI
Refleksi 1 Muharram
Fetching news ...