3 lomba Agustusan yang merendahkan martabat

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

3 lomba Agustusan yang merendahkan martabat "When it comes to human dignity, we cannot make compromises." - Angela Merkel

Hari Kemerdekaan selalu menjadi hari yang sangat spesial bagi setiap bangsa yang pernah terjajah. Di berbagai belahan dunia, tiap-tiap masyarakat memiliki cara sendiri dalam merayakannya.

Di Indonesia, cara merayakan kemerdekaan yang termasuk paling banyak dinanti adalah perlombaan tradisional yang sudah dilangsungkan selama beberapa generasi, bahkan ada yang sejak zaman penjajahan Belanda.

Di antara berbagai jenis lomba yang populer, ada setidaknya tiga jenis lomba yang tampak tak relevan lagi dilaksanakan. Selain tak jelas nilai yang dikandungnya, perlombaan tersebut merendahkan martabat sekaligus kental dengan feodalisme. Dalam struktur masyarakat feodal, ada salah satu ciri yang jelas, yakni menjadikan orang dari kelas sosial rendah dan miskin sebagai objek, yang dalam hal ini bentuk objektifikasinya dengan menjadikan mereka tontonan dan bahan tertawaan.

Terkait perlombaan dalam merayakan 17 Agustus, 3 lomba ini mengesankan pesan tersebut:

Panjat pinang

Menurut sejumlah sumber, perlombaan panjat pinang ini berasal dari Belanda. Dulu, dinamakan “De Klimmast” yang berarti ‘panjat tiang’. Permainan ini dibawa ke tanah air oleh penjajah Belanda, namun tidak ada satupun orang Belanda yang ingin mengikuti perlombaan ini.

Menurut mereka, permainan ini menjijikan, orang yang menopang di bawah harus rela diinjak-injak dari pinggang hingga kepala. Karena permainan ini mengharuskan “menginjak-injak” kepala yang melambangkan martabaat seseorang, Belanda berinisiatif mengadakan perlombaan ini untuk masyarakat Indonesia yang miskin.

Mereka menertawakan rakyat miskin yang rela berjibaku menanggalkan kehormatannya demi hadiah yang digantung di atas pohon pinang. Maka, aneh, bukan, jika kita masih menggelar perlombaan ini?

Sampai sekarang pun, yang mengikuti panjat pinang biasanya mereka yang berlatar rakyat jelata. Kelas priyayi dan golongan kaya tak mungkin mau melakukannya. Mereka hanya akan menikmati pemandangan orang-orang yang bersusah-susah bermandi keringat campur minyak demi barang-barang hadiah yang tak seberapa.

Di Belanda, permainan ini dilakukan di atas air. Selain berfungsi sebagai pelicin alami, air juga meminimalkan cedera jika peserta terjatuh. Di Indonesia lebih sadis, panjat pinang digelar di atas tanah lapang dengan tiang yang diberikan pelicin minyak goreng atau oli, terkadang dicampur lemak hewan. Maka, wajar beberapa dari peserta panjat pinang terkadang harus meregang nyawa karena terjatuh. Mana mungkin orang mau menukar nyawa demi sandal jepit atau rice cooker kecuali orang yang menganggap dirinya tak berharga.

Makan kerupuk

Lomba makan kerupuk konon dirayakan untuk mengenang kondisi masyarakat di era penjajahan. Mereka hanya bisa memakan nasi dan kerupuk sebagai lauk. Untuk mengingat ini, masyarakat kemudian berinisiatif menjadikan kerupuk ke dalam salah satu perlombaan di hari kemerdekaan.

Akan tetapi, saat ini, makna di atas tak tersampaikan dengan baik. Yang orang dapat amati hanya orang yang mangap-mangap menggapai kerupuk untuk dapat digigit, sedangkan penonton dan pemirsa tertawa menyaksikan kesulitan mereka. Terkadang, mereka fokus pada bentuk gigi dan mulut peserta untuk dijadikan bahan merundung atau membully.

Secara etika, makan tanpa tangan bukanlah cara manusiawi, kecuali bagi mereka yang terkendala. Yang justru terbuka untuk diamati dari permainan ini adalah kerakusan, karena itu yang dinilai, siapa tercepat melahap kerupuk, dia pemenangnya. Cara makan cepat-cepat pun tak baik bagi kesehatan. Jadi, mengapa lomba ini harus digelar, terutama untuk anak-anak?

Perlombaan makan kerupuk tak mengajarkan apa pun kecuali bermaksud untuk mentertawakan cara orang makan, yang dalam kehidupan sehari-hari banyak orang jumpai terjadi pada masyarakat miskin yang tak terdidik.

Gigit Koin

Lomba satu ini lebih tidak manusiawi daripada makan kerupuk. Dalam permainan ini, uang koin biasanya ditancapkan pada media tertentu seperti pepaya mentah, semanga, melon, jantung atau hati pisang, atau bahkan kelapa. Kemudian, media tersebut dilumuri oli, minyak goreng, atau kopi bubuk.

Untuk memenangkan pertandingan, peserta harus mencabut sebanyak mungkin koin menggunakan gigi. Tak sedikit peserta yang harus cedera karena permainan ini, seperti bibir pecah-pecah setelah terkena getah pepaya muda yang dicampur oli. Peserta yang dinyatakan menang biasanya dapat membawa pulang uang recehan tersebut plus mendapat hadiah ala kadarnya, yang tak akan sebanding dengan pengkerdilan martabat pesertanya.

Mulut dengan gigi dan bibir adalah salah satu organ tubuh yang terhormat karena dipakai untuk makan dan bicara. Kebersihannya harus dijaga. Dalam permainan ini, anggota badan tersebut direndahkan untuk digunakan mencabut uang recehan (yang kotor karena sudah dipegang banyak tangan) dan dari media kotor pula. 

Sama seperti pada lomba makan kerupuk, penonton lomba gigit koin biasanya menjadikan pesertanya sebagai bahan lelucon untuk diolok-olok. Terlebih, apabila pemenangnya memiliki bentuk mulut dan gigi tertentu.

Ketiga permainan rendahan ini tak dilakukan kecuali oleh peserta dari latar sosial tertentu. Mereka ini kebanyakan menyadari martabat kemanusiaannya tengah diuji. Di sisi lain, panitia sendiri terkadang tak sadar atau tak mengaku bermaksud merendahkan saudara sebangsa; padahal, mereka kalau diminta melakukanya tak akan mau. Oleh karena itu, cara terbaik adalah menghentikan permainan ini dan menggantinya dengan perlombaan atau permainan edukatif yang lebih bermutu. 

Cabut moratorium TKI ke Saudi, apa yang harus dilakukan pemerintah?
Uang tol elektronik ancam 20 ribu pekerja
Jangan ambil keputusan saat dalam 4 kondisi ini
Menyikapi isu bangkitnya PKI
Refleksi 1 Muharram
Fetching news ...